Dr. Lukman Tamhir, M.Pd
Gemuruh semangat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kembali menyapa bumi pertiwi di tahun 2025. Di Ternate, Maluku Utara, di mana jejak perjuangan pahlawan kemerdekaan dan semangat belajar tak pernah padam, kita merenungkan kembali esensi pendidikan bagi kemajuan bangsa. Peringatan Hardiknas bukanlah sekadar seremoni, melainkan momentum krusial untuk mengevaluasi sejauh mana cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang merata dan berkualitas telah terwujud. Tema sentral “Pendidikan Bermutu untuk Semua” pada Hardiknas tahun ini menggarisbawahi sebuah imperatif: pendidikan yang layak bukanlah hak istimewa, melainkan hak asasi setiap anak bangsa. Tulisan ini sebagai pemantik untuk merefleksi kembali potret pendidikan bermutu sebagai hak bagi semua orang.
Perjalanan panjang reformasi pendidikan di Indonesia telah membawa berbagai perubahan positif. Akses pendidikan semakin meluas, angka partisipasi sekolah/madrasah meningkat, dan beragam inovasi pembelajaran mulai diimplementasikan. Namun, cita-cita “pendidikan bermutu untuk semua” masih menyimpan tantangan yang tidak ringan. Kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, antara pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya, termasuk di Maluku Utara, masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Anak-anak di pelosok negeri seringkali dihadapkan pada keterbatasan fasilitas, kekurangan tenaga pendidik yang berkualitas, dan akses terhadap sumber belajar yang minim.
Refleksi Hardiknas 2025 ini mengajak kita untuk menelisik lebih dalam akar permasalahan dan merumuskan langkah-langkah strategis untuk mewujudkan pendidikan bermutu yang inklusif dan merata:
Memastikan Akses yang Setara: Pendidikan bermutu tidak akan terwujud jika aksesnya terbatas. Pemerintah pusat dan daerah, termasuk di Maluku Utara, perlu terus berupaya memperluas jangkauan pendidikan hingga ke pelosok-pelosok terpencil. Pembangunan infrastruktur pendidikan yang memadai, penyediaan transportasi yang aman dan terjangkau bagi siswa, serta pemanfaatan teknologi untuk menjangkau daerah-daerah sulit adalah langkah-langkah krusial.
Meningkatkan Kualitas dan Distribusi Guru: Guru adalah kunci utama dalam menghadirkan pendidikan bermutu. Pemerintah perlu memastikan distribusi guru yang merata di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di daerah-daerah yang selama ini kekurangan tenaga pendidik berkualitas. Program peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan, pemberian insentif yang menarik untuk bertugas di daerah terpencil, serta pemanfaatan teknologi untuk menghubungkan guru dengan sumber belajar dan komunitas profesional adalah langkah-langkah penting.
Kurikulum yang Relevan dan Adaptif: Kurikulum pendidikan harus relevan dengan kebutuhan peserta didik di berbagai konteks geografis dan sosial budaya. Di Maluku Utara, misalnya, kurikulum dapat diintegrasikan dengan kearifan lokal dan potensi daerah, sehingga pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan global tetapi juga memperkuat identitas budaya siswa. Fleksibilitas kurikulum yang memungkinkan adaptasi terhadap kebutuhan spesifik setiap daerah akan memastikan pendidikan yang lebih bermakna dan efektif.
Pemanfaatan Teknologi untuk Pemerataan: Teknologi memiliki potensi besar untuk menjembatani kesenjangan pendidikan. Platform pembelajaran daring, sumber belajar digital, dan konektivitas internet yang merata dapat membuka akses terhadap pendidikan berkualitas bagi siswa di mana pun mereka berada. Pemerintah daerah di Maluku Utara dapat berinvestasi dalam infrastruktur teknologi dan pelatihan bagi guru dan siswa untuk memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran.
Keterlibatan Aktif Masyarakat dan Orang Tua: Pendidikan bermutu adalah tanggung jawab bersama. Keterlibatan aktif masyarakat dan orang tua dalam mendukung proses belajar siswa di sekolah sangat penting. Program-program yang melibatkan komunitas lokal dalam pengelolaan sekolah, serta peningkatan kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan, akan menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih kuat dan suportif.
Fokus pada Pendidikan Inklusif: Pendidikan bermutu harus dapat diakses oleh semua anak, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Sekolah/Madrasah perlu dilengkapi dengan fasilitas dan tenaga pendidik yang mampu melayani keberagaman siswa. Pendidikan inklusif bukan hanya tentang menerima perbedaan, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan belajar yang adil dan memberdayakan bagi setiap individu.
Refleksi Hardiknas 2025 di Ternate Maluku Utara ini, menjadi pengingat bahwa mewujudkan “pendidikan bermutu untuk semua” membutuhkan komitmen yang kuat, kerja keras, inovasi, dan kolaborasi dari seluruh elemen bangsa. Semangat gotong royong dan keyakinan akan pentingnya pendidikan sebagai pilar kemajuan harus terus kita pupuk. Mari jadikan momentum ini sebagai titik awal untuk langkah-langkah nyata, memastikan bahwa setiap anak di seluruh pelosok Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, termasuk di Bumi Moloku Kie Raha ini, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan yang bermutu dan menggapai cita-citanya. Pendidikan yang merata dan berkualitas adalah kunci untuk membangun Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera.
(By. LukmanTamhir, Tenaga educator MAN 1 Ternate)

